![]() |
Sumber : Pinterest |
Kitadankata.com - Setiap orang pasti pernah marah, namun bagi
sebagian orang yang cenderung temperamental, mengendalikan emosi bisa menjadi
tantangan besar. Marah yang tak terkendali dapat melukai hati, merusak
hubungan, bahkan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Dalam Islam, marah bukanlah hal yang dilarang
sepenuhnya, tetapi harus dikelola dengan bijak. Rasulullah Saw. sendiri juga
pernah marah, namun beliau melakukannya karena alasan yang benar (lillah),
bukan karena hawa nafsu. Allah Swt berfirman:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى
السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ
النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang
maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang
yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat
kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Ayat ini menunjukkan bahwa menahan amarah adalah
salah satu sifat mulia yang dicintai Allah. Lalu, bagaimana cara melakukannya,
khususnya bagi yang temperamental? Berikut beberapa langkah yang dapat
membantu.
1. Mengingat Pahala dan Janji Allah
Rasulullah Saw. bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ
قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ
الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ
الْعِيْنِ مَا شَاءَ.
“Barang siapa menahan amarah padahal ia mampu
melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada
hari kiamat dan mempersilakannya memilih bidadari yang ia kehendaki.” (HR. Abu Dawud)
Mengaitkan tindakan menahan amarah dengan pahala
akhirat akan membuat hati lebih sabar. Mengingat janji Allah membantu kita
menempatkan emosi pada tempatnya.
2. Berdiam dan Mengubah Posisi
Rasulullah Saw. memberikan panduan praktis:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ
قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
“Jika salah seorang di antara kalian marah dalam
keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika amarahnya belum hilang, hendaklah ia
berbaring.” (HR. Abu
Dawud)
Perubahan posisi fisik membantu menurunkan
intensitas emosi. Berdiam diri sejenak dan menahan ucapan akan mencegah
kata-kata yang bisa melukai.
3. Segera Berwudhu
Air yang membasahi anggota tubuh dapat memberikan
efek menenangkan. Rasulullah Saw. bersabda:
“Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, dan
setan diciptakan dari api. Api dipadamkan dengan air, maka jika salah seorang
di antara kalian marah, hendaklah ia berwudu.”
(HR. Abu Dawud)
Selain menyejukkan fisik, wudu juga menjadi penyuci
hati dari bisikan setan.
4. Menjaga Lisan dari Kata-Kata Kasar
Bagi orang temperamental, kata-kata bisa menjadi
senjata yang memicu keretakan hubungan. Maka Islam mengajarkan untuk berkata
baik atau diam. Rasulullah Saw. bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,
hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menunda bicara saat emosi memuncak adalah langkah
penyelamatan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
5. Melatih Kesabaran secara Bertahap
Menahan amarah tidak bisa instan, apalagi bagi yang
temperamental. Perlu latihan mengelola emosi setiap hari, dimulai dari hal
kecil: mengalah di jalan, sabar saat menunggu, atau tidak langsung bereaksi
saat mendengar kabar buruk. Allah Swt. berfirman:
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ
وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ
اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ
“Taatilah Allah dan Rasul-Nya,
janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan
kekuatanmu hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang
yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Marah adalah fitrah, tetapi membiarkan amarah
menguasai diri hanya akan membuka pintu penyesalan. Islam memberikan panduan
jelas, ingat pahala, ubah posisi, berwudhu, jaga lisan, dan latih kesabaran.
Dengan membiasakan langkah-langkah ini, bahkan orang yang temperamental pun
bisa menjadi pribadi yang lebih tenang, bijak, dan menenangkan bagi sekitarnya.
Amarah itu seperti api, dan kita adalah pemegang
kendalinya. Pilihan ada di tangan kita, memadamkannya atau membiarkannya
membakar segalanya.