Selasa, 12 Agustus 2025

Cara Menahan Amarah bagi Orang Temperamental


Sumber : Pinterest

Kitadankata.com - Setiap orang pasti pernah marah, namun bagi sebagian orang yang cenderung temperamental, mengendalikan emosi bisa menjadi tantangan besar. Marah yang tak terkendali dapat melukai hati, merusak hubungan, bahkan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Dalam Islam, marah bukanlah hal yang dilarang sepenuhnya, tetapi harus dikelola dengan bijak. Rasulullah Saw. sendiri juga pernah marah, namun beliau melakukannya karena alasan yang benar (lillah), bukan karena hawa nafsu. Allah Swt berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Ayat ini menunjukkan bahwa menahan amarah adalah salah satu sifat mulia yang dicintai Allah. Lalu, bagaimana cara melakukannya, khususnya bagi yang temperamental? Berikut beberapa langkah yang dapat membantu.

1. Mengingat Pahala dan Janji Allah

Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ.

“Barang siapa menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat dan mempersilakannya memilih bidadari yang ia kehendaki.” (HR. Abu Dawud)

Mengaitkan tindakan menahan amarah dengan pahala akhirat akan membuat hati lebih sabar. Mengingat janji Allah membantu kita menempatkan emosi pada tempatnya.

2. Berdiam dan Mengubah Posisi

Rasulullah Saw. memberikan panduan praktis:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

“Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika amarahnya belum hilang, hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud)

Perubahan posisi fisik membantu menurunkan intensitas emosi. Berdiam diri sejenak dan menahan ucapan akan mencegah kata-kata yang bisa melukai.

3. Segera Berwudhu

Air yang membasahi anggota tubuh dapat memberikan efek menenangkan. Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, dan setan diciptakan dari api. Api dipadamkan dengan air, maka jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudu.”
(HR. Abu Dawud)

Selain menyejukkan fisik, wudu juga menjadi penyuci hati dari bisikan setan.

4. Menjaga Lisan dari Kata-Kata Kasar

Bagi orang temperamental, kata-kata bisa menjadi senjata yang memicu keretakan hubungan. Maka Islam mengajarkan untuk berkata baik atau diam. Rasulullah Saw. bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menunda bicara saat emosi memuncak adalah langkah penyelamatan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

5. Melatih Kesabaran secara Bertahap

Menahan amarah tidak bisa instan, apalagi bagi yang temperamental. Perlu latihan mengelola emosi setiap hari, dimulai dari hal kecil: mengalah di jalan, sabar saat menunggu, atau tidak langsung bereaksi saat mendengar kabar buruk. Allah Swt. berfirman:

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ

“Taatilah Allah dan Rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Marah adalah fitrah, tetapi membiarkan amarah menguasai diri hanya akan membuka pintu penyesalan. Islam memberikan panduan jelas, ingat pahala, ubah posisi, berwudhu, jaga lisan, dan latih kesabaran. Dengan membiasakan langkah-langkah ini, bahkan orang yang temperamental pun bisa menjadi pribadi yang lebih tenang, bijak, dan menenangkan bagi sekitarnya.

Amarah itu seperti api, dan kita adalah pemegang kendalinya. Pilihan ada di tangan kita, memadamkannya atau membiarkannya membakar segalanya.

 


Wallahu a'lam bishawab...


Penulis : Fadhilah