Kitadankata.com - Santri Huffadz As’adiyah Lompo dan santriwati Rumah Tahfidz Qur’an Haji Abdullah Mustafa (RTQHAM) memperingati Haul ke-8 Al-Maghfurlah Gurutta KH. Abdullah Mustafa, seorang ulama dan pendidik yang berjasa besar dalam pengajaran serta penjagaan Al-Qur’an di Sulawesi Selatan, khususnya di Sengkang, Wajo.
Acara berlangsung selama tiga hari, Selasa hingga Kamis, 09–11/12/2025 di pondok tahfidz putri yang juga sekaligus kediaman gurutta KH. Abdullah Mustafa dulu bersama keluarganya. Selama rangkaian kegiatan, para huffaz melaksanakan simaan Al-Qur’an 30 juz bil-ghaib hingga khatam, dilanjutkan kegiatan kebersamaan seperti mini soccer oleh santri dan alumni. Puncak haul digelar pada Rabu pagi dengan kehadiran santri Huffadz As’adiyah Lompo, RTQHAM, keluarga besar, dan masyarakat untuk mengenang keteladanan Al-Maghfurlah Gurutta Abdullah Mustafa sebagai ulama pengayom dan pendidik Al-Qur’an.
Sementara itu, Ustadz Samsul selaku Ketua Panitia mengungkapkan harapan agar kegiatan haul dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang. Ia menekankan pentingnya kehadiran para alumni serta murid-murid yang pernah belajar langsung kepada Gurutta untuk tetap terlibat dalam kegiatan seperti ini.
“Mudah-mudahan acara (haul) ini bisa terus dilaksanakan. Kami juga berharap para alumni dan siapa saja yang pernah diajar oleh Gurutta dapat hadir dan turut meramaikan acara haul di tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.
Menurut Ustadz Yusril, salah satu pengajar sekaligus alumni, peringatan Haul ke-8 ini bukan sekadar acara tahunan, tetapi menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali kecintaan para santri dan alumni kepada gurutta, Al-Maghfurlah KH. Abdullah Mustafa Al-Hafidz.
“Terselenggaranya haul ini bukan hanya rutinitas, tetapi momen untuk menambah kecintaan kita kepada guru kita, Almarhum Gurutta H. Abdullah Mustafa Al-Hafidz, serta menumbuhkan semangat dalam meneladani akhlak dan perjuangan beliau dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada murid-muridnya,” ujarnya saat diwawancarai 10/12/2025.
Ustadz Roif menambahkan bahwa selama empat tahun dibimbing langsung oleh Gurutta, ia mengaku tidak pernah sekalipun melihat Gurutta marah kepada santri. Ia menceritakan sebuah kejadian yang menurutnya menjadi bukti nyata kesabarannya.
“Dulu, setelah jam wajib malam atau setoran hafalan, ada seorang teman yang pergi ke pengajian dan tanpa sengaja memakai sandal milik Gurutta. Ketika Gurutta hendak pulang dan mengetahui sandalnya dipakai, beliau tidak berkata apa pun. Gurutta hanya duduk menunggu santri itu kembali. Dalam hati kami, kami mengira kali ini mungkin Gurutta akan marah. Tapi ternyata tidak. Ketika teman kami datang, Gurutta tidak marah sedikit pun, hanya menasihatinya dengan lembut. Di situ kami semakin paham betapa luas kesabaran beliau,” kenang Ustadz Roif.
Selain itu, bagi Ustadz Roif kesabaran dan semangat pengabdiannya luar biasa dalam membina para penghafal Al-Qur’an. Meski kondisi kesehatanya mulai menurun, Gurutta tetap memaksakan diri untuk membimbing para santri.
“Saya masih ingat ketika Gurutta sudah mulai jatuh sakit dan tidak bisa lagi mengendarai motor sendiri. Beliau rela naik ojek ke asrama Tahfidz Lompo demi memastikan kami tetap bisa ziyadah hafalan atau imtihan. Padahal seharusnya beliau beristirahat di rumah. Dan ketika benar-benar sudah tidak mampu keluar rumah, akhirnya kamilah yang mendatangi beliau untuk imtihan,” pungkasnya.













