![]() |
sumber : Pinterest |
Dalam pandangan Islam, pernikahan adalah ikatan
mulia yang dirancang untuk menghadirkan ketenangan, kasih sayang, dan saling
melengkapi. Allah Swt. menegaskan dalam firman-Nya:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ
لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ
بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ
يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Di antara tanda-tanda
(kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari
(jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di
antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini mengingatkan bahwa keharmonisan lahir dari
penerimaan dan rasa syukur, bukan dari perbandingan. Maka, bagaimana agar rumah
tangga tetap harmonis dan terhindar dari kebiasaan membandingkan? Berikut enam
prinsip yang bisa menjadi pegangan.
1. Bersyukur atas Kebaikan Pasangan
Setiap pasangan pasti memiliki kekurangan, namun juga memiliki kelebihan yang layak disyukuri. Mengabaikan kebaikan hanya karena terhalang satu kekurangan sama saja menutup mata dari nikmat Allah. Rasulullah Saw. bersabda:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً،
إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang
mukminah. Jika ia tidak menyukai salah satu sifatnya, maka ia akan menyukai
sifat yang lain.” (HR.
Muslim)
Hadis ini
mengajarkan kita untuk fokus pada sisi positif pasangan. Dengan menghargai
kebaikan yang ada, suasana hati menjadi lebih tenang dan hubungan pun semakin
hangat.
2. Menghindari Perbandingan yang Memicu Iri
Membandingkan pasangan dengan orang lain sering
kali membuat hati tidak ridha terhadap ketentuan Allah. Padahal, setiap orang
telah diberikan kelebihan dan kekurangan sesuai hikmah-Nya. Allah Swt.
berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ
اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا
اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ
مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
“Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang
telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi
laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada
bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari
karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32)
Ayat ini
mengajarkan kita untuk menerima takdir dengan lapang dada. Kelebihan orang lain
bukanlah tolok ukur kebahagiaan rumah tangga kita
3. Menyampaikan Harapan dengan Bahasa yang Baik
Kadang rasa ingin membandingkan muncul karena ada
harapan yang belum terpenuhi. Namun, menyampaikannya dengan nada perbandingan
justru akan melukai hati. Rasulullah Saw. bersabda:
الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Perkataan
yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahasa yang lembut bukan hanya menjaga perasaan
pasangan, tapi juga membuka ruang dialog yang sehat. Kritik yang dibungkus
dengan kelembutan lebih mudah diterima daripada sindiran yang menyinggung.
4. Menjadi Penopang, Bukan Beban
Suami dan
istri adalah satu tim. Kekurangan salah satu seharusnya menjadi peluang bagi
yang lain untuk membantu, bukan untuk diungkit. Rasulullah Saw. bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى
“Sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling
baik terhadap keluargaku.”(HR. Tirmidzi)
Kebaikan
yang sesungguhnya terlihat dari bagaimana kita bersikap di rumah. Ketulusan
dalam mendukung pasangan akan mempererat ikatan hati.
5. Menjaga Pandangan untuk Menjaga Hati
Perasaan
ingin membandingkan sering tumbuh karena terlalu sering melihat kehidupan orang
lain baik langsung maupun melalui media sosial. Allah Swt. berfirman:
قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا
مِنْ اَبْصَارِهِمْ …
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ
مِنْ اَبْصَارِهِنَّ …
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:
Hendaklah mereka menahan pandangannya... Dan katakanlah kepada wanita yang
beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya...”
(QS. An-Nur: 30–31)
Menahan
pandangan bukan hanya soal menjaga dari hal yang haram, tapi juga menjaga hati
agar tidak mudah iri atau tidak puas dengan pasangan sendiri.
6. Mengingat Tujuan Pernikahan yang Hakiki
Pernikahan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan
dunia, tapi juga sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat. Rasulullah Saw.
bersabda:
“Perempuan dinikahi karena empat hal: hartanya,
keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya
engkau beruntung.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Jika suami dan istri sama-sama berpegang pada nilai
agama, pernikahan akan terjaga dari godaan perbandingan yang merusak.
Membandingkan pasangan hanya akan mengikis rasa
syukur dan memperlebar jarak. Islam mengajarkan kita untuk saling menghargai,
menerima kekurangan, dan memperbaiki diri bersama-sama. Dengan hati yang penuh
syukur, ucapan yang lembut, dan tujuan pernikahan yang jelas, rumah tangga akan
menjadi tempat yang dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Pasangan adalah amanah, bukan bahan perbandingan. Jagalah ia dengan rasa hormat
dan cinta, sebagaimana kita berharap Allah menjaga rumah tangga kita.
Penulis : Fadhilah