Selasa, 12 Agustus 2025

6 Tips Menjadi Pasangan Harmonis dalam Islam, Jauh dari Sikap Membandingkan

sumber : Pinterest
Kitadankata.com - Rumah tangga adalah tempat berteduh, bukan arena perlombaan. Namun, di era media sosial seperti sekarang, godaan untuk membandingkan pasangan dengan orang lain semakin besar. Melihat unggahan keluarga yang tampak sempurna sering kali membuat kita lupa, bahwa setiap rumah tangga punya cerita dan perjuangannya masing-masing.

Dalam pandangan Islam, pernikahan adalah ikatan mulia yang dirancang untuk menghadirkan ketenangan, kasih sayang, dan saling melengkapi. Allah Swt. menegaskan dalam firman-Nya:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini mengingatkan bahwa keharmonisan lahir dari penerimaan dan rasa syukur, bukan dari perbandingan. Maka, bagaimana agar rumah tangga tetap harmonis dan terhindar dari kebiasaan membandingkan? Berikut enam prinsip yang bisa menjadi pegangan.

1. Bersyukur atas Kebaikan Pasangan

Setiap pasangan pasti memiliki kekurangan, namun juga memiliki kelebihan yang layak disyukuri. Mengabaikan kebaikan hanya karena terhalang satu kekurangan sama saja menutup mata dari nikmat Allah. Rasulullah Saw. bersabda:

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai salah satu sifatnya, maka ia akan menyukai sifat yang lain.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan kita untuk fokus pada sisi positif pasangan. Dengan menghargai kebaikan yang ada, suasana hati menjadi lebih tenang dan hubungan pun semakin hangat.

2. Menghindari Perbandingan yang Memicu Iri

Membandingkan pasangan dengan orang lain sering kali membuat hati tidak ridha terhadap ketentuan Allah. Padahal, setiap orang telah diberikan kelebihan dan kekurangan sesuai hikmah-Nya. Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

 

“Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32)

Ayat ini mengajarkan kita untuk menerima takdir dengan lapang dada. Kelebihan orang lain bukanlah tolok ukur kebahagiaan rumah tangga kita

3. Menyampaikan Harapan dengan Bahasa yang Baik

Kadang rasa ingin membandingkan muncul karena ada harapan yang belum terpenuhi. Namun, menyampaikannya dengan nada perbandingan justru akan melukai hati. Rasulullah Saw. bersabda:

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahasa yang lembut bukan hanya menjaga perasaan pasangan, tapi juga membuka ruang dialog yang sehat. Kritik yang dibungkus dengan kelembutan lebih mudah diterima daripada sindiran yang menyinggung.

4. Menjadi Penopang, Bukan Beban

Suami dan istri adalah satu tim. Kekurangan salah satu seharusnya menjadi peluang bagi yang lain untuk membantu, bukan untuk diungkit. Rasulullah Saw. bersabda:

  خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”(HR. Tirmidzi)

Kebaikan yang sesungguhnya terlihat dari bagaimana kita bersikap di rumah. Ketulusan dalam mendukung pasangan akan mempererat ikatan hati.

5. Menjaga Pandangan untuk Menjaga Hati

Perasaan ingin membandingkan sering tumbuh karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain baik langsung maupun melalui media sosial. Allah Swt. berfirman:

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya... Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya...”
(QS. An-Nur: 30–31)

Menahan pandangan bukan hanya soal menjaga dari hal yang haram, tapi juga menjaga hati agar tidak mudah iri atau tidak puas dengan pasangan sendiri.

6. Mengingat Tujuan Pernikahan yang Hakiki

Pernikahan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dunia, tapi juga sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat. Rasulullah Saw. bersabda:

“Perempuan dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika suami dan istri sama-sama berpegang pada nilai agama, pernikahan akan terjaga dari godaan perbandingan yang merusak.

Membandingkan pasangan hanya akan mengikis rasa syukur dan memperlebar jarak. Islam mengajarkan kita untuk saling menghargai, menerima kekurangan, dan memperbaiki diri bersama-sama. Dengan hati yang penuh syukur, ucapan yang lembut, dan tujuan pernikahan yang jelas, rumah tangga akan menjadi tempat yang dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah. Pasangan adalah amanah, bukan bahan perbandingan. Jagalah ia dengan rasa hormat dan cinta, sebagaimana kita berharap Allah menjaga rumah tangga kita.

 


Wallahu a'lam  bishawab...



Penulis : Fadhilah